Kunjungan Tokoh ( OFF CAMPUS )
Pendidikan Kader Ulama Angkatan ke- XIII
Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bogor
Jum`at, 27
September 2019 Para
Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama (PKU) XIII melaksanakan Kunjungan
Tokoh Agama Nasional Rektor
Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun ( UIKA ) Bogor yaitu Prof.D.R K.H
Didin Hafidhuddin, M.Sc.
Pada
kesempatan tersebut beliau menyampaikan Bekal Menjadi Seorang Ulama diantaranya
yakni diantaranya Tafaqquh fiddin / Memahami
ajaran islam secara mendalam, Memahami
kondisi manusia / masyarakat, Memahami Realita dan Memiliki
akhlak terpuji. Seorang ulama juga memiliki tugas-tugas yang harus dilakukan
diantaranya Memelihara / Menjaga Agama,Memelihara
/ Menjaga Umat, Memelihara / Menjaga Negara.
Minggu, 29
September 2019 Para Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama (PKU) XIII melaksanakan Kunjungan
Tokoh Nasional ( Negarawan ) Juru Bicara Badan Intelegen Negara Republik
Indonesia Dr.H Wawan Hari Purwanto.
Pada
kesempatan tersebut beliau memberikan banyak inspirasi dan motivasi. Diantaranya
motivasi motivasi soal membangun bisnis yang sukses tanpa rugi. beliau juga
menyampaikan “ sebagai kader ulama kita harus
menjaga keutuhan NKRI. cinta dan sayang
terhadap umat. Menguatkan, memelihara dan menjaga Agama. dan Sebagai ulama juga
harus memiliki akhlakul karimah, tidak mudah terbawa arus buruk. Dan yang
penting harus amanah dan jujur. Akhlak
bukan hanya pengetahuan tapi pembiasaan “ begitu pesan beliau untuk kader
ulama angakatan ke-XIII.
Selasa,
08 Oktober 2019 Para Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama (PKU) XIII melaksanakan Kunjungan ke gedung PBNU pusat
menemui Sekjen PBNU & DPR RI Fraksi III yakni Dr.
Helmy Faishal Zaini, S.T M.S.i.
Pada kesempatan tersebut banyak sekali yang beliau
sampaikan, terlebih perihal tantangan kader
NU sebagai ulama milenial dan sejarah NU. Adapun yang beliau sampaikan yakni
Bahwasanya Islam masuk ke Indonesia atau ke Nusantara dengan
damai tanpa adanya kekerasan yang menyakitkan masyarakat Nusantara dan oleh
karena itulah islam mudah berkembang di Indonesia. Dengan menggunakan beberapa
sarana yang sangatlah mudah diantaranya : perdagangan, perkawinan, seni/budaya,
politik, dan sebagainya.
Pada tahun 2025 mayoritas
masyarakat Indonesia adalah masyarakat usia milenial. Semakin milenial semakin
tidak butuh ormas. Bahkan, sebuah lembaga survey “mee can see” di singapura
menyatakan bahwa NU ( Nahdatul Ulama ) akan mati pada tahun 2030.Mengapa mati ?Jawabannya adalah karena
pada saat itu dunia akan dikuasai generasi millennial dan generasi Z. sedangkan
generasi yang banyak mengenal NU adalah generasi-generasi babby boomers. Generasi babby boomers ini
adalah orang-orang yang lahir setelah perang dunia ke-2 ( kurang lebih usia 40
th ). Dan NU sendiri kurang dikenal dikalangan generasi millennial saat ini. sudah menjadi tugas dan kewajiban kita supaya
bisa mengikuti perkembangan zaman ( berkembang dinamis ), dan menghadapi tantangan
zaman yang semakin modern dan canggih. Saat ini semua bisa didapat dalam
genggaman kita yaitu handphone atau gadget. Maka sudah saatnya kita mulai
berdakwah di media sosial. Dan tampil menjadi idola untuk generasi millennial.“ Mulailah membentuk team
untuk berdakwah di media sosial, yang terdiri dari team creator/konten, team
desain grafis, fotografi, audio visual dll. Dengan adanya team ini maka akan
memudahkan kita dalam berdakwah di dalam media sosial, dan generasi millennial
sangat senang dengan konten-konten yang menarik dan unik.” Begitu pesan yang
beliau sampaikan. Tentu ini perlu kita lakukan agar dakwah kita
dapat masuk dan diterima dikalangan usia muda millennial. adapun Jihad dalam media sosial yang paling mudah
yaitu bantu like, comment, repost dan follow akun-akun yang baik. Dan yang
perlu diingat adalah berdakwah itu tidak harus bermusuhan dengan orang lain. 








