Jumat, 15 November 2019


Kunjungan Tokoh ( OFF CAMPUS )
Pendidikan Kader Ulama Angkatan ke- XIII
Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bogor


Jum`at, 27 September 2019  Para Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama (PKU) XIII  melaksanakan Kunjungan Tokoh Agama Nasional  Rektor Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun ( UIKA ) Bogor  yaitu Prof.D.R K.H Didin Hafidhuddin, M.Sc.
Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan Bekal Menjadi Seorang Ulama diantaranya yakni  diantaranya Tafaqquh fiddin / Memahami ajaran islam secara mendalam, Memahami kondisi manusia / masyarakat, Memahami Realita dan Memiliki akhlak terpuji. Seorang ulama juga memiliki tugas-tugas yang harus dilakukan diantaranya Memelihara / Menjaga Agama,Memelihara / Menjaga Umat, Memelihara / Menjaga Negara.




Minggu, 29 September 2019  Para Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama (PKU) XIII  melaksanakan Kunjungan Tokoh Nasional ( Negarawan ) Juru Bicara Badan Intelegen Negara Republik Indonesia Dr.H Wawan Hari Purwanto.
Pada kesempatan tersebut beliau memberikan banyak inspirasi dan motivasi. Diantaranya motivasi motivasi soal membangun bisnis yang sukses tanpa rugi. beliau juga menyampaikan sebagai kader ulama kita harus menjaga keutuhan NKRI.  cinta dan sayang terhadap umat. Menguatkan, memelihara dan menjaga Agama. dan Sebagai ulama juga harus memiliki akhlakul karimah, tidak mudah terbawa arus buruk. Dan yang penting harus amanah dan jujur.  Akhlak bukan hanya pengetahuan tapi pembiasaan “ begitu pesan beliau untuk kader ulama angakatan ke-XIII.



Selasa, 08 Oktober 2019 Para Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama (PKU) XIII  melaksanakan Kunjungan ke gedung PBNU pusat menemui Sekjen PBNU & DPR RI Fraksi III yakni Dr. Helmy Faishal Zaini, S.T M.S.i.
Pada kesempatan tersebut banyak sekali yang beliau sampaikan, terlebih perihal tantangan kader NU sebagai ulama milenial dan sejarah NU. Adapun yang beliau sampaikan yakni

Bahwasanya Islam masuk ke Indonesia atau ke Nusantara dengan damai tanpa adanya kekerasan yang menyakitkan masyarakat Nusantara dan oleh karena itulah islam mudah berkembang di Indonesia. Dengan menggunakan beberapa sarana yang sangatlah mudah diantaranya : perdagangan, perkawinan, seni/budaya, politik, dan sebagainya.
Pada tahun 2025 mayoritas masyarakat Indonesia adalah masyarakat usia milenial. Semakin milenial semakin tidak butuh ormas. Bahkan, sebuah lembaga survey “mee can see” di singapura menyatakan bahwa NU ( Nahdatul Ulama ) akan mati pada tahun 2030.Mengapa mati ?Jawabannya adalah karena pada saat itu dunia akan dikuasai generasi millennial dan generasi Z. sedangkan generasi yang banyak mengenal NU adalah generasi-generasi  babby boomers. Generasi babby boomers ini adalah orang-orang yang lahir setelah perang dunia ke-2 ( kurang lebih usia 40 th ). Dan NU sendiri kurang dikenal dikalangan generasi  millennial saat ini. sudah menjadi tugas dan kewajiban kita supaya bisa mengikuti perkembangan zaman ( berkembang dinamis ), dan menghadapi tantangan zaman yang semakin modern dan canggih. Saat ini semua bisa didapat dalam genggaman kita yaitu handphone atau gadget. Maka sudah saatnya kita mulai berdakwah di media sosial. Dan tampil menjadi idola untuk generasi millennial.“ Mulailah membentuk team untuk berdakwah di media sosial, yang terdiri dari team creator/konten, team desain grafis, fotografi, audio visual dll. Dengan adanya team ini maka akan memudahkan kita dalam berdakwah di dalam media sosial, dan generasi millennial sangat senang dengan konten-konten yang menarik dan unik.” Begitu pesan yang beliau sampaikan. Tentu ini perlu kita lakukan agar dakwah kita dapat masuk dan diterima dikalangan usia muda millennial. adapun  Jihad dalam media sosial yang paling mudah yaitu bantu like, comment, repost dan follow akun-akun yang baik. Dan yang perlu diingat adalah berdakwah itu tidak harus bermusuhan dengan orang lain.  







Tidak ada komentar:

Posting Komentar